Senin, 16 Juni 2014
Antara boneka dan ibu negara..
"Ah, paling ntar cuma dijadiin boneka aja"
"Ntar kalau dia yang kepilih, yang jadi ibu negaranya siapa?"
"Gue nggak mau punya presiden yang nggak punya ***"
Walaupun percakapan diatas agak vulgar. Namun, begitulah fenomena yang terjadi di kelas berkaitan dengan pertarungan presiden yang akan dimulai pada Juli nanti. Calon presiden yang awalnya simpang siur dari koalisi antar partai hingga penentuan calon presiden yang akan diusung oleh partai. Tokoh-tokoh yang banyak bermunculan untuk dijadikan calon presiden dari ketua umum partai, menteri, direktur BUMN, bahkan penyanyi dangdut tidak kalah muncul dipermukaan untuk menunjukkan diri sebagai calon-calonnya presiden. Bahkan banyak Tokoh-tokoh dan partai yang sudah mengusung calon capres dan cawapresnya dari Pemilu Legislatif.
Menurut saya sebagai warga negara dan seorang remaja tindakan tersebut memang cukup gegabah karena peraturan KPU yang mensyaratkan perolehan 20 % kursi DPR legislatif tahun 2014 atau kurang-lebih berjumlah 112 kursi, selain itu mendapatkan perolehan suara sah sebesar 25 % dari perolehan suara secara sah nasional dari jumlah suara yang sah dalam pemilu legislatif sebesar 31.243.123 suara. Jujur, ketika saya melihat tindakan beberapa parpol yang saat pemilihan legislatif sudah mengusung calon presiden dengan peraturan KPU diatas jujur saya tidak yakin dengan tindakan parpol. Terbukti dengan hasil pemilihan yang diperoleh. Tidak ada satu pun partai yang dapat meraih 25 % suara sah nasional maupun memperoleh 20 % kursi DPR legislatif 2014. Atau dengan kata lain, untuk mengusung capres dan cawapres diperlukan beberapa partai untuk mengusung satu calon pasangan. Akibatnya, banyak calon capres yang akhirnya mencabut dukungannya bahkan ada yang sampai berpindah partai.
Setelah melalui proses yang cukup panjang dan rumit. Akhirnya capres dan cawapres yang sempat simpang siur terus menciut hingga akhirnya menyisakan dua pasangan yang ternyata menghasilkan persaingan antara pendukung keduanya yang cukup sengit.
Persaingan tak hanya terjadi di warung kopi, pasar-pasar, dan jalan-jalan. Bahkan di kelas saya sendiri yang notabene belum mempunyai KTP (walaupun sudah berumur 17 beberapa sudah ada yang punya sih) persaingan keduanya cukup sengit. Teman-teman saya yang khususnya anak-anak cowok sangat berpihak pada salah satu pasangan dan sayangnya memojokan pasangan yang lain dengan bahasa yang agak vulgar.
"Dih, lu mau punya presiden yang nggak punya ***?"
"Dih, kalau dia yang nggak kepilih. Lu mau nggak punya ibu negara?"
"Gue nggak mau punya presiden yang di****"
Sedangkan beberapa teman yang berpihak pada salah satu pasangan walaupun tidak sepenuhnya melancarkan dukungannya walaupun tidak secara langsung.
"Dih, gue nggak mau punya presiden yang dijadiin boneka sama partainya"
"Dia cocok jadi presiden tapi gue nggak suka sama wakilnya. Nah kalau yang satu mah lebih bagus jadi gubernur"
"Dia mah tegas, nggak suka diatur-atur sama pihak asing"
Sebenarnya awalnya saya menyukai salah satunya karena kepemimpinannya yang bagus dalam skala daerah. Namun, saya menjadi kecewa ketika tokoh tersebut memilih untuk 'mematuhi atasan sekaligus tuannya' untuk maju dibanding menuntaskan masa baktinya sebagai pemimpin daerah. Kekecewaan saya bertambah karena bukan pertama kali tokoh tersebut meninggalkan tanggung jawabnya hanya untuk meraih jabatan yang lebih tinggi. Sedangkan untuk pasangan yang satu lagi, saya belum bisa memutuskan akan mendukung atau tidak karena saya tidak tahu kapabilitas secara keseluruhan dan perannya dalam politik kecuali dari iklan. Namun, saya akui wakilnya mempunyai catatan yang bersih dalam dunia perpolitikkan maupun pemerintahan.
Terakhir, saya akan menutup dengan perbincangan antara saya dan beberapa teman kepada guru saya. Saat itu beliau meminta kami untuk membantu beliau menyalin tulisannya dengan tulisan kami yang menurut beliau lebih bisa dibaca oleh murid-murid.
"Ibu kalau pilpres mau pilih siapa?" tanya teman saya.
"Ibu mah mau pilih yang itu saja, soalnya dia memiliki hubungan yang bagus dengan dunia luar. Kalau yang satu mah kurang, lagian blusukan aja mah nggak efektif" jawabnya (seingat saya ya.. Maaf kalau ada yang salah-salah).
Siapapun calon presiden dan calon wakil presiden yang akan terpilih nanti. Saya sebagai seorang remaja hanya bisa berharap bahwa mereka memang berambisi untuk memajukan Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dengan mempertahankan pemahaman pancasila dan agama. Sekian dari saya maaf kalau ada yang merasa tersinggung dengan artikel ini....
Sumber: http://www.setkab.go.id/berita-12976-inilah-penjelasan-kpu-soal-pendaftaran-pasangan-calon-presiden-dan-wakil-presiden.html
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Siapakah negara yang teroris?